Kenapa piranti kognitif tidak boleh di gunakan ketika ujian?
Sebaiknya kita memahami apa evaluasi itu. Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebuat mempengaruhi kehidupan peserta didik. Maka dari pada itu setiap pembelejaran hendaknya diikuti dengan evaluasi agar perkembangan peserta didik dapat terpantau.
Evaluasi tidak dapat berdiri sendiri, pada intinya evaluasi memiliki beberapa prinsip;
1. Evaluasi bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembelajaran bagi masyarakat.
2. Evaluasi merupakan seni karena tidak ada evaluasi yang sempurna walaupun menggunakan beberapa metode yang berbeda.
3. Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup, hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi.
4. Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat, bukan terpaku pada angka soal tes.
Dapat kita pahami bahwasannya tujuan pembelajaran adalah menjadikan perubahan pada peserta didik dalam bidang pembentukan kepribadian, memberikan gambaran tentang nilai-nilai keagamaan yang tidak melenceng dari norma-norma agama. Dalam evaluasi tentunya dituntut kepada peserta didik untuk mampu mengeluarkan segenap kemampuannya yang telah di berikan kepada peserta didik dalam proses pendidikan yang ia jalani. Sehingga tujuan perubahan yang terjadi pada peserta didik dapat diukur dengan jelas.
Sementara itu pada dasarnya evaluasi juga memiliki tujuan untuk menilai dan mengukur proses pembelajaran yang terjadi. Proses pembelajaran itu sudah sesuai atau belum dapat dilihat dalam evaluasi yang dilakukan.
Bagi peserta didik, evaluasi identik dengan tes atau ujian. Dalam tes atau ujian tersebut diikuti oleh peserta didik, yang mana peserta didik dituntut untuk mengeluarkan segenap pengetahuan yang telah ia peroleh dari proses pembelajaran. Piranti kognitif yang biasa dipakai pada proses pembelajaran tentunya tidak boleh dipakai secara keseluruhan oleh peserta didik pada saat ujian. Di karenakan dapat menimbulkan ketergantungan terhadap piranti kognitif. Pada dasarnya piranti kognitif hanyalah sebuah alat bantu proses pembelajaran.
Peserta didik memang tidak disiapkan untuk menguasai segala hal yang diperoleh dari proses pembelajaran. Akan tetapi peserta didik dituntut untuk menguasai sebuah konsep yang dilaksanakan oleh pembelajaran tersebut. Oleh sebab itulah piranti yang boleh dipakai peserta didik pada saat ujian hanyalah piranti sederhana yang fungsinya tidak dapat digantikan oleh otak dan tidak dapat memberikan informasi ketika ujian sedang berlangsung. Kertas dan bolpoint sebagai contoh, di sini kertas dan bolpoin hanya sebagai piranti yang fungsinya tidak dapat digantikan oleh otak manusia.
Itu semua merupakan suatu sebab mengapa dalam ujian, peserta didik tidak diperbolehkan menggunakan kalkulator, buku, catatan-catatan, dan sebagainya yang bisa member informasi kepada peserta didik.